cisaat | November 16, 2006
Apabila qalbu kotor dan mengeras seperti batu, maka nafs tidak mendapat energi dari ruh. Akibatnya nafsnya menjadi sakit atau lumpuh. Dan nafsnya dikepompongi (dipenjara) oleh hawa nafsu dan syahwatnya.
Kepompong ini sesungguhnya bukanlah hakikat manusia, tetapi hawa nafsu dan syahwat. Hakikat manusianya adalah nafs yang sakit atau lumpuh yang dikepompongi oleh hawa nafsu dan syahwat.
Artinya, apabila sekarang kita mengatakan 'inilah diri saya', sangat boleh jadi sekali bahwa yang kita tunjuk bukanlah hakikat diri kita, tetapi hanyalah kepompong hawa nafsu dan syahwat.
Ilmu Psikologi sekarang ini hanyalah membahas persoalan
behaviourisme, yang sesungguhnya hanya membahas 'kepompong' nya bukan hakikat manusia itu sendiri.
Apabila seorang manusia, bisa keluar dari kepompongnya maka ia akan keluar sebagai kupu-kupu yang indah. Dan pengenalan terhadap kupu-kupu inilah pengenalan terhadap hakikat diri manusia, yang dikatakan Rasulullah SAW akan mengantarkannya mengenal Tuhannya.
Proses keluarnya nafs dari kepompong inilah sebuah proses panjang Taubatan Nasuuha. Sangat jarang sekali manusia yang menghadapi ajalnya dalam keadaan telah keluar dari kepompong. Sehingga akhirnya nafsnya tersiksa dalam kubur.
Orang-orang yang semasa hidupnya dapat keluar dari kepompong, ia akan mengenal hakikat dirinya. Ia akan mengetahui apa Misi Suci yang diembannya dari Allah Ta'ala. Ia akan menjadi citra dan cerminan Allah Ta'ala di bumi ini. Menjadi khalifahnya, dan menjadi rahmat untuk seluruh alam. Inilah pengabdian tertinggi seorang manusia kepada Sang Pencipta.
Pengenalannya terhadap hakikat dirinya, akan kembali menyadarkannya akan persaksiannya dengan Allah Ta'ala di Alam Alastu. Dan akan mengantarkannya mengenal Allah Ta'ala. Sehingga ia dapat menjadi saksi yang benar (Asy-syuhada) dan lebih jauh lagi saksi yang benar dan membenarkan bagi Allah Ta'ala (Ash-shiddiqiin). Allah Ta'ala menjaga keberadaannya diatas Shirath Al Mustaqiim, jalan Allah, jalan orang-orang yang diberi nikmat yaitu Ad-Diin yang tegak. Seperti dipegangnya ubun-ubun binatang melata.
Apabila ia menghadapi ajal, maka nafsnya akan terbebas dari siksa kubur. Nafsnya hidup di sisi Allah Ta'ala. Dan dapat berjalan-jalan di tengah-tengah manusia. Namun kebanyakan manusia -yang buta qalbunya- tidak menyadari keberadaaanya.
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. 2:154)
Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya. (QS. 6:122)
Semoga Allah Ta'ala memberikan kita rahmat, agar kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang dipimpin-Nya, di atas Shirath Al Mustaqiim.
Kepompong ini sesungguhnya bukanlah hakikat manusia, tetapi hawa nafsu dan syahwat. Hakikat manusianya adalah nafs yang sakit atau lumpuh yang dikepompongi oleh hawa nafsu dan syahwat.
Artinya, apabila sekarang kita mengatakan 'inilah diri saya', sangat boleh jadi sekali bahwa yang kita tunjuk bukanlah hakikat diri kita, tetapi hanyalah kepompong hawa nafsu dan syahwat.
Ilmu Psikologi sekarang ini hanyalah membahas persoalan
behaviourisme, yang sesungguhnya hanya membahas 'kepompong' nya bukan hakikat manusia itu sendiri.
Apabila seorang manusia, bisa keluar dari kepompongnya maka ia akan keluar sebagai kupu-kupu yang indah. Dan pengenalan terhadap kupu-kupu inilah pengenalan terhadap hakikat diri manusia, yang dikatakan Rasulullah SAW akan mengantarkannya mengenal Tuhannya.
Proses keluarnya nafs dari kepompong inilah sebuah proses panjang Taubatan Nasuuha. Sangat jarang sekali manusia yang menghadapi ajalnya dalam keadaan telah keluar dari kepompong. Sehingga akhirnya nafsnya tersiksa dalam kubur.
Orang-orang yang semasa hidupnya dapat keluar dari kepompong, ia akan mengenal hakikat dirinya. Ia akan mengetahui apa Misi Suci yang diembannya dari Allah Ta'ala. Ia akan menjadi citra dan cerminan Allah Ta'ala di bumi ini. Menjadi khalifahnya, dan menjadi rahmat untuk seluruh alam. Inilah pengabdian tertinggi seorang manusia kepada Sang Pencipta.
Pengenalannya terhadap hakikat dirinya, akan kembali menyadarkannya akan persaksiannya dengan Allah Ta'ala di Alam Alastu. Dan akan mengantarkannya mengenal Allah Ta'ala. Sehingga ia dapat menjadi saksi yang benar (Asy-syuhada) dan lebih jauh lagi saksi yang benar dan membenarkan bagi Allah Ta'ala (Ash-shiddiqiin). Allah Ta'ala menjaga keberadaannya diatas Shirath Al Mustaqiim, jalan Allah, jalan orang-orang yang diberi nikmat yaitu Ad-Diin yang tegak. Seperti dipegangnya ubun-ubun binatang melata.
Apabila ia menghadapi ajal, maka nafsnya akan terbebas dari siksa kubur. Nafsnya hidup di sisi Allah Ta'ala. Dan dapat berjalan-jalan di tengah-tengah manusia. Namun kebanyakan manusia -yang buta qalbunya- tidak menyadari keberadaaanya.
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. 2:154)
Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya. (QS. 6:122)
Semoga Allah Ta'ala memberikan kita rahmat, agar kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang dipimpin-Nya, di atas Shirath Al Mustaqiim.
Posted 4 years, 1 month ago on November 16, 2006
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/197/
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/197/
Comments on this post:
Comments have now been turned off for this post
