cisaat | September 22, 2006

Cara memandang (musyahadah) tauhid sifat ialah memandang dengan mata bathin dan keyakinan , bahwa semua sifat seperti qudrat (kuasa), iradat (kehendak), ilmu, hayat (hidup), sama' (mendengar), bashar (melihat) dan kalam (berkata-kata) berdiri pada Zat-Nya dan bahwa semua sifat tersebut ada Sifat Allah. Sebab pada hakikatnya tiada ada zat yang bersifat dengan sifat tersebut, melainkan Zat Allah .

Tetapi penyandaran sifat tersebut kepada mahluk hanya bersifat majazi (metafora) bukan hakikat. Karena itu, semua sifat yang ada pada mahluk merupakan mazhar (kenyataan) Sifat Allah.

Apabila sudah benar benar yakin (tahqiq) dalam memandang dengan cara demikian , niscaya segala sifat mahluk fana' didalam Sifat Allah. Yakni tidak mendengar melainkan dengan Pendengaran Allah, tidak melihat melainkan dengan Penglihatan Allah, tidak mengetahui melainkan dengan Ilmu Allah, tidak hidup melainkan dengan hayat Allah dan tidak berbicara melainkan dengan kalam Allah. Dengan demikian semakin jelas bahwa semua sifat yang dimiliki mahluk berasal dan tercitra dari sifat Allah. Sebagai mana hadist qudsi :

" Orang-orang yang mendekatkan diri, tidak merasa dekat dengan KU kalau hanya melaksanakan apa yang Aku wajibkan kepada mereka, melainkan mereka juga melaksanakan ibadah ibadah sunah sehingga Aku mencintainya. Maka jika Aku mencintainya niscaya Aku adalah pendengarannya yang dengan itu dia mendengar , penglihatannya yang dengan itu dia melihat, lidahnya yang dengannya dia berkata-kata.

Tanganya yang dengannya ia memegang, kakinya yang dengannya dia berjalan, dan dengan hatinya yang dengannya dia bercita cita."Cara yang harus ditempuh untuk mencapai tajalli (penyingkapan) sifat adalah dengan memandang sifat-sifat hamba menjadi fana' (hilang) disebabkan oleh sifat sifat Allah. Memulainya dengan sifat pendengaran yang terasa diri hamba. Yakinkan dalam hati bahwa pendengaran hamba lenyap dibawa Pendengaran Allah, pendengaran hamba tidak memiliki wujud yang hakiki sementara yang memiliki pendengaran hakiki hanyalah Allah. Jika hati telah mantap dalam proses tajali
sifat dan telah yakin pada sifat pendengaran tersebut, maka teruskan pada sifat sifat yang lainnya dengan cara bertahap, selangkah demi selangkah seperti pada sifat bashar, kalam, ilmu, iradat, 'athaun (memberi) dan man'un (menahan).

Dan bila hal itu sering dipraktekan maka hilanglah semua sifat karena yang nampak hanya Sifat Allah. Selanjutnya pandanglah dalam kehidupan sebagai perwujudan Sifat Allah, karena hanya Dia yang hidup (hayyun). Dengan demikian nyatalah bahwa tiada yang kecuali Allah.

Ketika seseorang telah berhasil mencapai maqam fana' , selanjutnya akan naik pada maqam baqa' bisifatillah. Dan ketika seseorang berhasil melalui tahapan ini berarti ia telah memperoleh kemenangan, yakni mengenal sifat Allah. Dan ketika itu pula berarti telah mencapai fana fi sifatillah dan baqa bi sifatillah, dan selanjutnya Allah akan pembukakan pintu rahasia sifat sifat Allah yang mulia.

Pencapaian maqam baqa' pada tauhidus sifat merupakan cita cita dan harapan para salikin (pejalan) . Dan maqam ini pula yang menjadi idaman dan dambaan setiap pencinta tuhan. Karenanya maqam ini sering kali menjadi terminal perhentian dalam puncak pencapaian para anbiya dan aulia. Karena tidak ada yang dapat mencapai maqam ini melainkan Nabi Muhammad SAW . dan beberapa anbiya' dan para aulia yang dibawah
bimbingannya.

Untuk menuju tajalli sifat, harus melalui proses satu persatu atau berangsur angsur (tadrij). Dalam mengamalkannya tidak boleh dilakukan sekaligus, tetapi harus melalui tahapan. Hal ini harus dilakukan supaya tidak kaget tatkala memandang sifat tuhan yang hakiki. Sebab sifat sifat itu tidaklah memiliki hakikat yang sama ada yang lembut , keras, lebih keras bahkan ada keras sekali sehingga upaya kefanaan di hadapan sifat sifat Ilahi juga bertingkat.

Dengan demikian, Proses tadrij dalam hal ini menjadi penting karena dapat mematangkan diri untuk mengenal masing masing sifat Allah . Dengan kata lain, seorang salik dalam mengenal secara mendalam sifat sifat Allah, karena pengenalannya satu persatu hingga yakin. Maka ketika hati sudah yakin niscaya akan semakin kuat dan tidak goyah pada saat membahas tajali zat. Karena tidak memungkinkan seseorang menanggung tajali zat sebelim tamkin atau tetap pada tajali sifat didalam hati.

Seorang salikin yang telah mencapai maqam ini niscaya akan menjadi khalifatullah di muka bumi. Saat itu, Allah akan menugaskannya sebagai Duta Allah untuk menjaga hukum hukum Allah di muka bumi. Dan Allah akan memberikan balasan serupa membebaskannya dari segala hukuman. Keadaan ini bisa umpamakan dengan Adam as yang telah dijadikan Alla sebagai khalifah di bumi ini, sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran:

Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". ... (Al Baqarah:30)


Khalifah yang dimaksud disini adalah sosok yang akan mewakili Allah menegakan hukum hukumNya di bumi. Tentu saja penunjukan sebagai khalifah Allah ini atas kehendak Nya. Allah juga mengajari tentang semua rahasia yang ada di langit maupun di bumi sebagai bekalnya.

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda)
seluruhnya,.... (Al Baqarah:31)


Kemudian Allah juga memberi petunjuk kepada hamba yang menjadi khalifah Nya, sehingga dapat mengetahui segala sesuatu yang nyata dan tersembunyi, karena ia telah dipilih secara langsung oleh Nya untuk menduduki posisi penting sebagai khalifah.
Posted 4 years, 3 months ago on September 22, 2006
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/188/

Comments on this post:

Comments have now been turned off for this post