cisaat | March 21, 2006
Ilmu Tarikat-pun tidak lepas kaitannya dengan Imam Ali r.a. sebagai sumber sejarahnya. Di kalangan para ahli Tarikat, Imam Ali r.a. diakui sebagai tokoh puncaknya. Semua Ilmu Tarikat, Hakikat dan Tashawuf bersumber pada pemikiran-pemikiran Imam Ali r.a.
Sebagai putera asuhan sejak usia 6 tahun, Imam Ali r.a. selalu berada di dekat Rasul Allah s.a.w. hampir tak pernah pisah. Sedangkan Rasul Allah s.a.w. sendiri pada saat menerima Ali bin Abi Thalib dalam tanggung jawabnya, tengah mengalami satu proses yang luar biasa. Dari segi kemanusiaannya, terutama kerohaniannya beliau sedang diproses oleh Al-Khaliq untuk diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Pada saat itulah Muhammad s.a.w. melakukan kontemplasi (tafakur), perenungan dan dialog dalai fikiran batin.
Beliau melakukan penyepian (khalwat) di bukit-bukit dan di gua-gua sekitar kota Makkah. Suatu proses yang berlangsung hebat sekali dalam hati nurani beliau. Dengan prihatin dan jiwa yang bersih disertai pula dengan pandangan batin yang tajam beliau menyaksikan ketidakbenaran dan ketimpangan-ketimpangan tatakehidupan masyarakat dan keagamaan yang dihayati oleh masyarakat jahiliyah pada masa itu. Hatinya terketuk melihat kerusakan-kerusakan dan dekadensi yang menimpa kehidupan masyarakat. Tetapi kalau hanya menyalah-nyalahkan dan mencela saja tidak akan mendatangkan kebaikan bagi masyarakat yang sedang sesat dan bobrok itu. Alternatif lain penggantinya harus ada. Semuanya itu berkecamuk di dalam hati beliau s.a.w.
Sejak usia dini beliau sudah kritis dalam memandang kehidupan lingkungannya. Sejak kecil beliau belum pernah hanyut terbawa oleh arus adat kebiasaan dan kepercayaan jahiliyah. Imam Ali r.a. menyaksikan sendiri saudara pengasuhnya itu menempuh cara hidup keduniawian dan kerohanian yang sangat jauh berbeda dari kebiasaan umum yang lazim berlaku pada masa itu.
Dengan kepatuhan seorang anak yang ditanggapi secara tepat oleh seorang dewasa, terjadilah suatu jalinan perpaduan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muhammad s.a.w. dalam periode beliau sedang menghadapi proses pengangkatannya sebagai Nabi dan Rasul pembawa kebenaran Allah s.w.t. Tak ada bagian-bagian proses itu yang lewat dari penyaksian Imam Ali bin Abi Thalib. Ia selalu mengikuti ke mana saja saudara pengasuhnya itu pergi dan memperhatikan benar-benar apa saja yang dilakukan oleh beliau s.a.w. Ia mencontoh gaya hidup jasmani dan rohani, termasuk cara-cara beribadah sebelum kenabian beliau.
Suara yang berupa ajaran dan wejangan Rasul Allah s.a.w. dan cahaya kebenaran Allah s.w.t. yang menerangi jiwa beliau diserap oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Hakekat kebenaran Allah 'Azza wa Jalla yang ditemukan dan difahami oleh saudara pengasuhnya selama prosesnya yang bertahun-tahun itu, diikuti, diterima dan dihayati oleh Ali bin Abi Thalib r.a. Itulah antara lain yang memperkuat dasar mengapa Imam Ali r.a. berhak menyandang gelar Bapak Ilmu Tarikat, Hakekat, atau Tashawuf.
Mengenai ilmu di bidang ini tokoh-tokoh terkemuka kaum Tarikat, seperti Asy-Syibliy, Al Junaid, Asy-Syariy, Abu Yazid Al Bistamiy, Abu Mahfudz yang terkenal dengan nama Al-Khurqiy dan lain sebagainya, semua mengakui Imam Ali r.a. sebagai tokoh puncak mereka.
Cara dan gaya hidup Rasul Allah s.a.w. mulai dari yang sekecil-kecilnya sampai yang sebesar-besarnya, hampir seluruhnya dijadikan tauladan oleh Imam Ali r.a. Oleh karena itulah ia bukan saja hidup sebagai seorang ilmuwan yang mencakup banyak bidang, melainkan juga seorang yang hidup penuh taqwa dan menempuh cara hidup zuhud. Ia tidak risau atau terpengaruh oleh kesenangan-kesenangan duniawi. Bahkan sampai menjadi Khalifah pun cara hidup yang seperti itu dipertahankan sebagai sesuatu yang sudah manunggal dengan keimanan dan ketaqwaannya pada Allah Rabbul'alamin.
Sebagai putera asuhan sejak usia 6 tahun, Imam Ali r.a. selalu berada di dekat Rasul Allah s.a.w. hampir tak pernah pisah. Sedangkan Rasul Allah s.a.w. sendiri pada saat menerima Ali bin Abi Thalib dalam tanggung jawabnya, tengah mengalami satu proses yang luar biasa. Dari segi kemanusiaannya, terutama kerohaniannya beliau sedang diproses oleh Al-Khaliq untuk diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Pada saat itulah Muhammad s.a.w. melakukan kontemplasi (tafakur), perenungan dan dialog dalai fikiran batin.
Beliau melakukan penyepian (khalwat) di bukit-bukit dan di gua-gua sekitar kota Makkah. Suatu proses yang berlangsung hebat sekali dalam hati nurani beliau. Dengan prihatin dan jiwa yang bersih disertai pula dengan pandangan batin yang tajam beliau menyaksikan ketidakbenaran dan ketimpangan-ketimpangan tatakehidupan masyarakat dan keagamaan yang dihayati oleh masyarakat jahiliyah pada masa itu. Hatinya terketuk melihat kerusakan-kerusakan dan dekadensi yang menimpa kehidupan masyarakat. Tetapi kalau hanya menyalah-nyalahkan dan mencela saja tidak akan mendatangkan kebaikan bagi masyarakat yang sedang sesat dan bobrok itu. Alternatif lain penggantinya harus ada. Semuanya itu berkecamuk di dalam hati beliau s.a.w.
Sejak usia dini beliau sudah kritis dalam memandang kehidupan lingkungannya. Sejak kecil beliau belum pernah hanyut terbawa oleh arus adat kebiasaan dan kepercayaan jahiliyah. Imam Ali r.a. menyaksikan sendiri saudara pengasuhnya itu menempuh cara hidup keduniawian dan kerohanian yang sangat jauh berbeda dari kebiasaan umum yang lazim berlaku pada masa itu.
Dengan kepatuhan seorang anak yang ditanggapi secara tepat oleh seorang dewasa, terjadilah suatu jalinan perpaduan antara Ali bin Abi Thalib dengan Muhammad s.a.w. dalam periode beliau sedang menghadapi proses pengangkatannya sebagai Nabi dan Rasul pembawa kebenaran Allah s.w.t. Tak ada bagian-bagian proses itu yang lewat dari penyaksian Imam Ali bin Abi Thalib. Ia selalu mengikuti ke mana saja saudara pengasuhnya itu pergi dan memperhatikan benar-benar apa saja yang dilakukan oleh beliau s.a.w. Ia mencontoh gaya hidup jasmani dan rohani, termasuk cara-cara beribadah sebelum kenabian beliau.
Suara yang berupa ajaran dan wejangan Rasul Allah s.a.w. dan cahaya kebenaran Allah s.w.t. yang menerangi jiwa beliau diserap oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Hakekat kebenaran Allah 'Azza wa Jalla yang ditemukan dan difahami oleh saudara pengasuhnya selama prosesnya yang bertahun-tahun itu, diikuti, diterima dan dihayati oleh Ali bin Abi Thalib r.a. Itulah antara lain yang memperkuat dasar mengapa Imam Ali r.a. berhak menyandang gelar Bapak Ilmu Tarikat, Hakekat, atau Tashawuf.
Mengenai ilmu di bidang ini tokoh-tokoh terkemuka kaum Tarikat, seperti Asy-Syibliy, Al Junaid, Asy-Syariy, Abu Yazid Al Bistamiy, Abu Mahfudz yang terkenal dengan nama Al-Khurqiy dan lain sebagainya, semua mengakui Imam Ali r.a. sebagai tokoh puncak mereka.
Cara dan gaya hidup Rasul Allah s.a.w. mulai dari yang sekecil-kecilnya sampai yang sebesar-besarnya, hampir seluruhnya dijadikan tauladan oleh Imam Ali r.a. Oleh karena itulah ia bukan saja hidup sebagai seorang ilmuwan yang mencakup banyak bidang, melainkan juga seorang yang hidup penuh taqwa dan menempuh cara hidup zuhud. Ia tidak risau atau terpengaruh oleh kesenangan-kesenangan duniawi. Bahkan sampai menjadi Khalifah pun cara hidup yang seperti itu dipertahankan sebagai sesuatu yang sudah manunggal dengan keimanan dan ketaqwaannya pada Allah Rabbul'alamin.
Posted 4 years, 10 months ago on March 21, 2006
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/180/
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/180/
Comments on this post:
Comments have now been turned off for this post
