cisaat | March 21, 2006
Bagi Imam Ali r.a. ilmu Tilawatil Qur'an merupakan ilmu yang paling pertama kali diteguk dan diperolehnya langsung dari Rasul Allah s.a.w. sejak berusia muda belia. Ialah orang yang paling tahu bagaimana Rasul Allah s.a.w. membaca ayat-ayat Al-Qur'an. Sejak Rasul Allah s.a.w. masih hidup, Imam Ali r.a. sudah dikenal sebagai orang pertama dan yang paling dini menghafal Al-Qur'an. Kedudukannya yang sangat dekat dengan Rasul Allah s.a.w. dan kecerdasannya membuat Imam Ali r.a. dapat menguasai dengan sempurna Ilmu Tilawatil Qur'an.
Ada kesepakatan di kalangan para penyusun riwayat, bahwa di samping menguasai pengertian dan tafsir Al-Qur'an secara baik, Imam Ali r.a. juga diakui sebagai seorang ahli Ilmu Tilawah. Keahliannya dan kecakapannya di bidang ini sangat membantu usaha menghimpun ayat-ayat suci Al-Qur'an dikemudian hari. Dalam pekerjaan yang maha besar itu sumbangan dan peranan Imam Ali r.a. sangat menentukan keberhasilannya.
Sebagaimana diketahui, setelah Rasul Allah s.a.w. wafat, Abu Bakar Ash Shiddiq meneruskan kepemimpinana beliau atas ummat Islam. Di kala itu terjadi peperangan untuk menumpas kaum pembangkang zakat dan gerakan kaum murtad, serta oknum-oknum petualang yang mengaku diri sebagai "nabi". Dengan terjadinya konflik tersebut para sahabat yang hafal ayat-ayat suci Al-Qur'an makin berkurang, karena banyak yang gugur di medan tempur. Terdorong oleh kekhawatiran habisnya para sahabat yang hafal ayat-ayat suci Al-Qur'an, atas usul Umar Ibnul Khatatab r.a., Khalifah Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit supaya segera mengkodifikasi wahyu suci. Tugas raksasa ini memerlukan ketekunan, kesabaran, ketelitian, kecermatan dan kejujuran. Dalam pekerjaan mulia ini, Zaid bin Tsabit dimudahkan antara lain oleh sumbangan Imam Ali r.a. yang tak ternilai besarnya.
Jika ditelusuri sejarah Ilmu Tilawatil Qur'an, maka akan ditemukan kenyataan bahwa para Imam dan para ahli Tilawah semuanya menimba ilmu dari sumbernya yang pertama, yaitu Imam Ali r.a. Ambil saja sebagai misal, Abu Umar bin Al-A'laa, Ashim bin Najd dan sebagainya. Mereka semua berasal dari perguruan Abu Abdurrahman As-Sulamiy Al-Qari. Sedangkan Abu Abdurrahman in bukan lain adalah murid Imam Ali r.a. sendiri, yang belajar langsung dari gurunya.
Sebagai orang yang hidup taqwa dan menguasai Al-Qur'an baik lafadz maupun maknanya, Imam Ali r.a. memandang Al-Qur'an sebagai satu-satunya juru selamat bagi manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ketika menjelaskan pandangannya terhadap Al-Qur'an, Imam Ali r.a. antara lain berkata:
"Kalian Wajib mengetahui, bahwa Al-Qur'an itu adalah nasehat yang tak pernah palsu, pembimbing yang tak pernah sesat, dan pembicara yang tak kenal dusta. Tiap orang yang duduk membaca Al-Qur'an, ia pasti memperoleh tambahan atau pengurangan, yaitu tambahan hidayat atau pengurangan ketidaktahuan. Ketahuilah bahwa tidak ada yang lebih unggul dan lebih tinggi bagi seseorang dari pada Al-Qur'an".
"Oleh karena itu sembuhkanlah penyakit kalian dengan Al-Qur'an, dan dengan Al-Qur'an mohonlah pertolongan lepada Allah untuk mengatasi kesukaran kalian. Dalam Al-Qur'an terdapat obat penyembuh bagi penyakit yang paling parah, yaitu penyakit kufur, kemunafikan dan kesesatan. Mohonlah kepada Allah dengan Al-Qur'an dan dengan mencintai Al-Qur'an hadapkanlah diri kalian ke hadiratNya. Janganlah dengan Al-Qur'an kalian meminta sesuatu lepada makhluk Allah. Semua hamba Allah tidak dapat menghadapkan diri lepada-Nya melalui sesama makhluk".
"Dan ketahuilah, bahwa Al-Qur'an adalah pemberi syafa'at yang benar-benar dapat diharapkan. Juga merupakan pembicara yang terpercaya. Barang siapa yang memperoleh dari Al-Qur'an pada hari kiyamat, berarti ia memperoleh syafa'at yang sejati. Dan barang siapa yang dinilai buruk oleh Al-Qur'an, pada hari kiyamat ia tidak akan dipercaya. Pada hari kiyamat akan terdengar suara berseru: Bukankah orang yang berbuat akan diuji pula oleh akibat dari perbuatannya itu? Kecuali orang yang berbuat menurut ajaran Al-Qur'an!".
"Oleh sebab itu jadilah kalian orang-orang yang berbuat sesuai dengan Al-Qur'an dan mengikuti ajaran-ajarannya. Jadikanlah Al-Qur'an sebagai penasehat kalian. Jadikanlah Al-Qur'an sebagai pembimbing fikiran dan pendapat kalian, dan jadikanlah Al-Qur'an sebagai pencegah hawa nafsu!".
Demikianlah pandangan hidup seorang bapak ilmu Tilawatil Qur'an, Imam Ali bim Abi Thalib r.a. Ilmunya menghayati pandangan hidupnya dan pandangan hidupnya mengarahkan penerapan ilmunya. Dan itulah yang menjadi hakekat dasar ilmu Tilawaril Qur'an.
Ada kesepakatan di kalangan para penyusun riwayat, bahwa di samping menguasai pengertian dan tafsir Al-Qur'an secara baik, Imam Ali r.a. juga diakui sebagai seorang ahli Ilmu Tilawah. Keahliannya dan kecakapannya di bidang ini sangat membantu usaha menghimpun ayat-ayat suci Al-Qur'an dikemudian hari. Dalam pekerjaan yang maha besar itu sumbangan dan peranan Imam Ali r.a. sangat menentukan keberhasilannya.
Sebagaimana diketahui, setelah Rasul Allah s.a.w. wafat, Abu Bakar Ash Shiddiq meneruskan kepemimpinana beliau atas ummat Islam. Di kala itu terjadi peperangan untuk menumpas kaum pembangkang zakat dan gerakan kaum murtad, serta oknum-oknum petualang yang mengaku diri sebagai "nabi". Dengan terjadinya konflik tersebut para sahabat yang hafal ayat-ayat suci Al-Qur'an makin berkurang, karena banyak yang gugur di medan tempur. Terdorong oleh kekhawatiran habisnya para sahabat yang hafal ayat-ayat suci Al-Qur'an, atas usul Umar Ibnul Khatatab r.a., Khalifah Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit supaya segera mengkodifikasi wahyu suci. Tugas raksasa ini memerlukan ketekunan, kesabaran, ketelitian, kecermatan dan kejujuran. Dalam pekerjaan mulia ini, Zaid bin Tsabit dimudahkan antara lain oleh sumbangan Imam Ali r.a. yang tak ternilai besarnya.
Jika ditelusuri sejarah Ilmu Tilawatil Qur'an, maka akan ditemukan kenyataan bahwa para Imam dan para ahli Tilawah semuanya menimba ilmu dari sumbernya yang pertama, yaitu Imam Ali r.a. Ambil saja sebagai misal, Abu Umar bin Al-A'laa, Ashim bin Najd dan sebagainya. Mereka semua berasal dari perguruan Abu Abdurrahman As-Sulamiy Al-Qari. Sedangkan Abu Abdurrahman in bukan lain adalah murid Imam Ali r.a. sendiri, yang belajar langsung dari gurunya.
Sebagai orang yang hidup taqwa dan menguasai Al-Qur'an baik lafadz maupun maknanya, Imam Ali r.a. memandang Al-Qur'an sebagai satu-satunya juru selamat bagi manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ketika menjelaskan pandangannya terhadap Al-Qur'an, Imam Ali r.a. antara lain berkata:
"Kalian Wajib mengetahui, bahwa Al-Qur'an itu adalah nasehat yang tak pernah palsu, pembimbing yang tak pernah sesat, dan pembicara yang tak kenal dusta. Tiap orang yang duduk membaca Al-Qur'an, ia pasti memperoleh tambahan atau pengurangan, yaitu tambahan hidayat atau pengurangan ketidaktahuan. Ketahuilah bahwa tidak ada yang lebih unggul dan lebih tinggi bagi seseorang dari pada Al-Qur'an".
"Oleh karena itu sembuhkanlah penyakit kalian dengan Al-Qur'an, dan dengan Al-Qur'an mohonlah pertolongan lepada Allah untuk mengatasi kesukaran kalian. Dalam Al-Qur'an terdapat obat penyembuh bagi penyakit yang paling parah, yaitu penyakit kufur, kemunafikan dan kesesatan. Mohonlah kepada Allah dengan Al-Qur'an dan dengan mencintai Al-Qur'an hadapkanlah diri kalian ke hadiratNya. Janganlah dengan Al-Qur'an kalian meminta sesuatu lepada makhluk Allah. Semua hamba Allah tidak dapat menghadapkan diri lepada-Nya melalui sesama makhluk".
"Dan ketahuilah, bahwa Al-Qur'an adalah pemberi syafa'at yang benar-benar dapat diharapkan. Juga merupakan pembicara yang terpercaya. Barang siapa yang memperoleh dari Al-Qur'an pada hari kiyamat, berarti ia memperoleh syafa'at yang sejati. Dan barang siapa yang dinilai buruk oleh Al-Qur'an, pada hari kiyamat ia tidak akan dipercaya. Pada hari kiyamat akan terdengar suara berseru: Bukankah orang yang berbuat akan diuji pula oleh akibat dari perbuatannya itu? Kecuali orang yang berbuat menurut ajaran Al-Qur'an!".
"Oleh sebab itu jadilah kalian orang-orang yang berbuat sesuai dengan Al-Qur'an dan mengikuti ajaran-ajarannya. Jadikanlah Al-Qur'an sebagai penasehat kalian. Jadikanlah Al-Qur'an sebagai pembimbing fikiran dan pendapat kalian, dan jadikanlah Al-Qur'an sebagai pencegah hawa nafsu!".
Demikianlah pandangan hidup seorang bapak ilmu Tilawatil Qur'an, Imam Ali bim Abi Thalib r.a. Ilmunya menghayati pandangan hidupnya dan pandangan hidupnya mengarahkan penerapan ilmunya. Dan itulah yang menjadi hakekat dasar ilmu Tilawaril Qur'an.
Posted 4 years, 10 months ago on March 21, 2006
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/179/
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/179/
Comments on this post:
Comments have now been turned off for this post
