cisaat | March 21, 2006

Bagi orang awam, bahkan kaum ahli sekalipun, selalu menjumpai kenyataan bahwa tafsir Al-Qur'an banyak sekali kaitannya dengan nama seorang ulama besar, Abdullah Ibnu Abbas. Ulama ini memang terkenal sekali sebagai seorang ahli tafsir Al-Qur'an. Abdullah Ibnu Abbas juga seorang ulama yang dipercaya oleh Khalifah Abu Bakar r.a. dan Khalifah Umar r.a. untuk memberikan penafsiran tentang sesuatu ayat Al-Qur'an.

Sungguhpun demikian, ketika Abdullah Ibnu Abbas ditanya orang, bagaimana perbandingan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh "putera paman anda" (Imam Ali r.a.), jawabnya sederhana saja: "Perbandingannya seperti setotes air hujan dengan air samudera!". Jawaban itu tidak mengherankan. Bukan karena ia rendah hati, melainkan juga karena ia adalah murid Imam Ali r.a. sendiri. Dalam ilmu Tafsir, nama dua orang itu hampir tak pernah pisah sama sekali.
Benar sekali penyaksian Abu Fudhail yang mendengar sendiri Imam Ali r.a. berkata dari atas mimbar: "Tanyakanlah kepadaku selama aku ada. Apa saja yang kalian tanyakan, aku sanggup menjawab. Tanyakanlah tentang Kitab Allah. Demi Allah, taka da satu ayatpun yang aku tidak mengetahui, apakah ayat itu TurĂ­n di waktu siang ataukah di waktu malam, di datankah atau di pegunungankah!".

Kata-kata Imam Ali r.a. itu bukan menunjukan kesombongan, tetapi karena ia tampak jengkel melihat ada orang yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan semena-mena. Dan apa yang diucapkannya itu bukan kata-kata hampa yang tidak berbukti.

Menurut Ibnul Abil Iladid, Al Madainiy meriwayatkan, bahwa dalam salah satu khutbahnya Imam Ali r.a. pernah berkata: "Seandainya ada yang mengadu kepadaku karena bantalnya dirobek orang, aku akan mengambil keputusan hukum. Bagi ahli Taurat berdasarkan Tauratnya, bagi ahli Injil berdasarkan Injilnya, dan dan bagi ahli Al-qur'an berdasarkan Qur'annya!".

Sungguh besarlah nikmat Allah yang dilimpahkan lepada putera Abu Thalib yang telah menerima asuhan dan pendidikan manusia terbesar sepanjang sejarah, Nabi Besar Muhammad s.a.w.! Tidak keliru kalau tiga orang Califa sebelumnya memandang Imam Ali r.a. sebagai penasehat ahli yang sama sekali tak dapat ditinggalkan fatua-fatwanya!.
Posted 4 years, 10 months ago on March 21, 2006
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/176/

Comments on this post:

Comments have now been turned off for this post