cisaat | March 21, 2006
Buminya hati nurani adalah dadanya manusia (shadrun). Tetapi di dalam dada manusia tidak hanya terdapat hati nurani, ada pula hati sanubari. Hati nurani (qalbun nuraniyyun) bila difungsikan, akan mengenal Tuhan dan mengajak kepada segala perbuatan yang sejalan dengan kehendak Tuhan. Sebaliknya, bila yang berfungsi hati sanubari (qalbun zhulmaniyyun), oleh karena tidak mengenal Tuhan maka selalu mengajak kepada segala perbuatan yang sejalan dengan kehendak nafsu dan watak akunya, yang itu semua lalu dipandangnya baik dan benar.
Dikatakan tidak mengenal Tuhan, karena tidak mengerti sama sekali bahwa Allah itu nama (asma') bagi ZatNya, maka lalu tidak butuh untuk mengenali Yang punya nama itu (Musamma'Nya).
Dan, ternyata Tuhan tidak akan memfungsikan kedua-dua hati itu secara bersamaan. Bila salah satunya berfungsi maka yang lainnya akan lumpuh, bahkan bisa mati sama sekali.
Ternyata pula Tuhan telah mendinding (menghijab) antara manusia dengan hatinya, yaitu mendindingi (menyekat kuat) hati nuraninya. Sehingga sejak diberadakannya di dunia ini (dilahirkan dari perut ibunya) mata hatinya tak lagi berfungsi menyaksikan Keberadaan DiriNya Ilahi Zat Al-Ghaib, seperti ketika di 'alam zarr dimintai kesaksiannya.
Sesungguhnya yang menghalangi pandangan mata hatinya itu ialah keberadaan jasad (yang dirasa dan diaku wujud) yang lalu menjadi wujudnya nafsu manusia itu sendiri, setelah manusia (di 'alam zarr) menyatakan kesanggupan menerima amanat untuk diuji dengan berkehidupan dunia.
Maka, bimbingan Khalifatullah fil-ardh yang 'arifun billah dan Ahli Zikir ini menuntun hamba-hamba yang dibukakan hatinya dengan hidayah-Nya, untuk menafi'kan (meniadakan) dari dalam rasa hatinya zat, sifat dan af'al (perbuatan) hamba, dan sekaligus mengitsbatkan (menetapkan) dalam rasa hatinya Ada dan WujudNya Zat Al-Ghaib Yang Wajib WujudNya, Allah Asma'Nya, sebagai satu-satu-Nya Yang Ada dan Yang Wujud (oleh karena itu Dia disebut Wujud Mutlak).
Itulah makna kalimat nafi' laa ilaaha dan kalimat itsbat illa Allah. Sehingga akan nyata terbuka bagi hamba-hamba yang telah memperoleh hidayah-Nya itu, rahasia Keberadaan DiriNya Ilahi yang tersimpan dalam kalimat thayyibah, laa ilaaha illa Allah, dalam setiap tingkah laku dan perbuatan hamba di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja, tidak ada Tuhan selain Allah (membuktikan tauhid).
Dikatakan tidak mengenal Tuhan, karena tidak mengerti sama sekali bahwa Allah itu nama (asma') bagi ZatNya, maka lalu tidak butuh untuk mengenali Yang punya nama itu (Musamma'Nya).
Dan, ternyata Tuhan tidak akan memfungsikan kedua-dua hati itu secara bersamaan. Bila salah satunya berfungsi maka yang lainnya akan lumpuh, bahkan bisa mati sama sekali.
Ternyata pula Tuhan telah mendinding (menghijab) antara manusia dengan hatinya, yaitu mendindingi (menyekat kuat) hati nuraninya. Sehingga sejak diberadakannya di dunia ini (dilahirkan dari perut ibunya) mata hatinya tak lagi berfungsi menyaksikan Keberadaan DiriNya Ilahi Zat Al-Ghaib, seperti ketika di 'alam zarr dimintai kesaksiannya.
Sesungguhnya yang menghalangi pandangan mata hatinya itu ialah keberadaan jasad (yang dirasa dan diaku wujud) yang lalu menjadi wujudnya nafsu manusia itu sendiri, setelah manusia (di 'alam zarr) menyatakan kesanggupan menerima amanat untuk diuji dengan berkehidupan dunia.
Maka, bimbingan Khalifatullah fil-ardh yang 'arifun billah dan Ahli Zikir ini menuntun hamba-hamba yang dibukakan hatinya dengan hidayah-Nya, untuk menafi'kan (meniadakan) dari dalam rasa hatinya zat, sifat dan af'al (perbuatan) hamba, dan sekaligus mengitsbatkan (menetapkan) dalam rasa hatinya Ada dan WujudNya Zat Al-Ghaib Yang Wajib WujudNya, Allah Asma'Nya, sebagai satu-satu-Nya Yang Ada dan Yang Wujud (oleh karena itu Dia disebut Wujud Mutlak).
Itulah makna kalimat nafi' laa ilaaha dan kalimat itsbat illa Allah. Sehingga akan nyata terbuka bagi hamba-hamba yang telah memperoleh hidayah-Nya itu, rahasia Keberadaan DiriNya Ilahi yang tersimpan dalam kalimat thayyibah, laa ilaaha illa Allah, dalam setiap tingkah laku dan perbuatan hamba di mana saja, kapan saja dan dalam kondisi apa saja, tidak ada Tuhan selain Allah (membuktikan tauhid).
Posted 4 years, 10 months ago on March 21, 2006
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/174/
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/174/
Comments on this post:
Comments have now been turned off for this post
