cisaat | February 27, 2006
Dari pengamatan penulis baru terdapat beberapa tulisan yang mengkaji "pemikiran" (selain sejarah, antologi karya, biografi HAJI HASAN MUSTAPA, ataupun deskripsi tipologi karya HAJI HASAN MUSTAPA) beberapa dalam bentuk penelitian skripsi dan dua tulisan dalam bentuk penelitian Tesis.
Pertama yang ditulis Jajang Jahroni, dengan judul "Haji Hasan Mustapa (1852-1930) as The Great Sundanese Mystic" (Haji Hasan Mustapa (1852-1930) Seorang Sufi Besar Sunda), sebuah penelitian tentang karakteristik dan tipologi pemikiran tasawuf K.H.
Hasan Mustapa sebagai salah seorang tokoh sufi Sunda. Tulisan ini merupakan tugas akhir studinya di Belanda untuk mendapat gelar M.A. Jajang adalah seorang Dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Jakarta. Kedua dengan judul "Eksistensi Manusia Menurut K.H. Hasan Mustapa (1852-1930)" yang di-tulis Ahmad Gibson Al-Bustomi yang juga dalam bentuk penelitian tesis dalam konsentrasi akidah dan pemikiran Islam di program pascasarjana IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Jajang menjelaskan bahwa pemikiran tasawuf HAJI HASAN MUSTAPA dipengaruhi oleh empat sufi besar, antara lain: Syaikh Muhyi al-Din ibn 'Arabi melalui kitab al-Futuhat al-Makiyya dan 'Abd al-Karim al-Jilli melalui kitab al-Insan al-Kamil fi Ma'rifat al-Awakhir wa al-Awa'il.
Pengaruh kedua sufi ini terutama pada pandangan teosofinya, yang berpijak pada teori metafisika wihdatul wujud. Secara khusus pengaruh al-Jilli, sebenarnya, sangat tampak pada kesamaan antara fase-fase atau maqomat yang diadopsi HAJI HASAN MUSTAPA yang tertuang dalam "Sasaka di Kaislaman" hanya berbeda dalam perumusan argumen dan pemaparannya. Dua sufi lainnya yang berpengaruh pada pandangan ketasawufan HAJI HASAN MUSTAPA dalam dari al-Ghazali melalui kitab
Ihya 'Ulum al-Din yang berusaha untuk menghubungkan antara syariat dan thariqat. Ibn Fadlillah al-Burhanpuri perumus awal konsep Martabat Tujuh, yang menulis al-Tuhfa al-Mursala ila al-Ruh al-Nabi.
Jajang menjelaskan bahwa HAJI HASAN MUSTAPA telah berhasil
merelasikan antara tradisi mistik lokal Jawa-Sunda dan tradisi tasawuf klasik Islam. Hal tersebut, katanya, tampak dalam membandingkan antara term-term kosmologi Jawa-Sunda baik dalam mitologi maupun pewayangan dengan term-term yang dikenal dalam tasawuf.
Sementara itu dalam tesis yang berjudul "Eksistensi Manusia Menurut K.H. Hasan Mustapa (1852-1930)" dengan menggunakan pendekatan filsafat Eksistensialisme, Gibson berusaha membedah pemikiran HAJI HASAN MUSTAPA tentang eksistensi manusia. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa inti pemikiran HAJI HASAN MUSTAPA khususnya tentang manusia dan eksistensi manusia terangkum dalam dua naskah besarnya, yaitu naskah Gelaran Sasaka di Kaislaman dan naskah (Ajip Rosidi menyebutnya sebagai catatan ringkas) Martabat Tujuh.
Pemikiran-pemikiran HAJI HASAN MUSTAPA yang terinci dalam ribuan Dangding tersebut bila dikerucutkan dalam tema sentral eksistensi manusia, terangkum dalam dua naskah besar tersebut.
Bila menggunakan perspektif filsafat Eksistensialisme Gelaran Sasaka di Kaislaman merupakan naskah yang menjelaskan fase-fase aktualisasi eksistensi seorang manusia yang berhadapan dengan sejumlah norma-norma sosial yang oleh individu manusia pada umumnya disikapi (secara sadar) dan secara faktual (di luar kesadaran sadar) merupakan unsur yang mengancam eksistensi dan otonomi individu.
Dalam naskah tersebut HAJI HASAN MUSTAPA menegaskan bahwa justru tekanan-tekanan norma sosial (agama) tersebut secara eksistensial merupakan unsur dialektis yang menjadi potensi pendorong dan dinamisator bagi munculnya proses penyadaran eksistensi manusia.
Gelaran Sasaka di Kaislaman sebagai fase aktualisasi eksistensi manusia diawali oleh fase atau maqomat Islam hingga Kurbah. Maqomat Islam sebagai maqomat awal hingga maqomat Sahadah, digambarkan HAJI HASAN MUSTAPA sebagai maqomat yang sarat dengan sikap "menyebelah" dari individu manusia dalam memandang apa pun, baik diri maupun sesuatu di luar diri dan mulai maqomat Sidiqiah hingga Kurbah sikap-sikap menyebelah tersebut secara bertahap hilang dari cara
pandang individu manusia. HAJI HASAN MUSTAPA melihat bahwa pada gelaran inilah sikap dan cara pandang keberagamaan manusia lahir dalam pengertian yang sesungguhnya.
Naskah Martabat Tujuh-nya HAJI HASAN MUSTAPA menjelaskan fase lanjutan dari fase-fase yang dilalui dalam Gelaran Sasaka di Kaislaman. Suatu fase puncak dalam sikap dan cara pandang keagamaan yang berakhir pada maqomat Insan Kamil. Maqom yang tidak lagi melihat perbedaan dan pertentangan dalam kehidupan di dunia sebagai kenyataan hakikiah.
Perbedaan-perbedaan dan pertentangan tersebut tak lebih disebabkan oleh cara pandang manusia yang memiliki kecenderungan menyebelah dan mengutub. Cara pandang yang terlahir dari sikap yang membedakan secara radikal sifat-sifat Jamal dan Jalal Tuhan yang termanifestasi dalam keragaman alam makhluknya. Individu manusia yang telah sampai pada maqom Insan Kamil, memandang bahwa keragaman tersebut tak lebih dari manifestasi dari sifat Jamal dan Jalal Tuhan yang merupakan derivasi (tajalli) dari sifat Kamal atau Kemahasempurnaan Tuhan.
Dari kedua tulisan tersebut tampak dan dapat dimaklumi betapa pemikiran HAJI HASAN MUSTAPA dipijakkan di atas dasar-dasar teori besar, khususnya teori teosofi yang dalam dunia pesantren sekalipun dianggap sebagai teori yang tidak bisa dipelajari secara mudah.
Dengan demikian, wajarlah bila ditemukan kesulitan yang tidak kecil dalam memahami dan mendalami pemikiran dan karya besar HAJI HASAN MUSTAPA karena diperlukan sejumlah disiplin yang memadai, khususnya dalam bidang sastra Sunda, budaya, agama (khususunya tasawuf dan kalam), dan filsafat.
Tampaknya persoalan yang terjadi bukan hanya dalam mengkaji dan mendalami karya dan pemikiran HAJI HASAN MUSTAPA, tetapi juga dalam mengkaji budaya Sunda karena bila benar bahwa HAJI HASAN MUSTAPA merupakan representasi ideal budayawan dan pencetus konsep ideal manusia Sunda, maka untuk mengkaji persoalan kesundaan, persiapan dan bekal yang harus disiapkan dan dimiliki kurang lebih sama. Oleh
karena itu, keberadaan konsorsium sebagai alat dan sistem kajian untuk mengorek mutiara dari khazanah budaya Sunda yang dipendam dan terpendam menjadi prasyarat yang mutlak adanya.
****) Penulis: Ketua Jurusan Aqidah Filsafat, Dosen Teologi dan Filsafat di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.*
Pertama yang ditulis Jajang Jahroni, dengan judul "Haji Hasan Mustapa (1852-1930) as The Great Sundanese Mystic" (Haji Hasan Mustapa (1852-1930) Seorang Sufi Besar Sunda), sebuah penelitian tentang karakteristik dan tipologi pemikiran tasawuf K.H.
Hasan Mustapa sebagai salah seorang tokoh sufi Sunda. Tulisan ini merupakan tugas akhir studinya di Belanda untuk mendapat gelar M.A. Jajang adalah seorang Dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Jakarta. Kedua dengan judul "Eksistensi Manusia Menurut K.H. Hasan Mustapa (1852-1930)" yang di-tulis Ahmad Gibson Al-Bustomi yang juga dalam bentuk penelitian tesis dalam konsentrasi akidah dan pemikiran Islam di program pascasarjana IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Jajang menjelaskan bahwa pemikiran tasawuf HAJI HASAN MUSTAPA dipengaruhi oleh empat sufi besar, antara lain: Syaikh Muhyi al-Din ibn 'Arabi melalui kitab al-Futuhat al-Makiyya dan 'Abd al-Karim al-Jilli melalui kitab al-Insan al-Kamil fi Ma'rifat al-Awakhir wa al-Awa'il.
Pengaruh kedua sufi ini terutama pada pandangan teosofinya, yang berpijak pada teori metafisika wihdatul wujud. Secara khusus pengaruh al-Jilli, sebenarnya, sangat tampak pada kesamaan antara fase-fase atau maqomat yang diadopsi HAJI HASAN MUSTAPA yang tertuang dalam "Sasaka di Kaislaman" hanya berbeda dalam perumusan argumen dan pemaparannya. Dua sufi lainnya yang berpengaruh pada pandangan ketasawufan HAJI HASAN MUSTAPA dalam dari al-Ghazali melalui kitab
Ihya 'Ulum al-Din yang berusaha untuk menghubungkan antara syariat dan thariqat. Ibn Fadlillah al-Burhanpuri perumus awal konsep Martabat Tujuh, yang menulis al-Tuhfa al-Mursala ila al-Ruh al-Nabi.
Jajang menjelaskan bahwa HAJI HASAN MUSTAPA telah berhasil
merelasikan antara tradisi mistik lokal Jawa-Sunda dan tradisi tasawuf klasik Islam. Hal tersebut, katanya, tampak dalam membandingkan antara term-term kosmologi Jawa-Sunda baik dalam mitologi maupun pewayangan dengan term-term yang dikenal dalam tasawuf.
Sementara itu dalam tesis yang berjudul "Eksistensi Manusia Menurut K.H. Hasan Mustapa (1852-1930)" dengan menggunakan pendekatan filsafat Eksistensialisme, Gibson berusaha membedah pemikiran HAJI HASAN MUSTAPA tentang eksistensi manusia. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa inti pemikiran HAJI HASAN MUSTAPA khususnya tentang manusia dan eksistensi manusia terangkum dalam dua naskah besarnya, yaitu naskah Gelaran Sasaka di Kaislaman dan naskah (Ajip Rosidi menyebutnya sebagai catatan ringkas) Martabat Tujuh.
Pemikiran-pemikiran HAJI HASAN MUSTAPA yang terinci dalam ribuan Dangding tersebut bila dikerucutkan dalam tema sentral eksistensi manusia, terangkum dalam dua naskah besar tersebut.
Bila menggunakan perspektif filsafat Eksistensialisme Gelaran Sasaka di Kaislaman merupakan naskah yang menjelaskan fase-fase aktualisasi eksistensi seorang manusia yang berhadapan dengan sejumlah norma-norma sosial yang oleh individu manusia pada umumnya disikapi (secara sadar) dan secara faktual (di luar kesadaran sadar) merupakan unsur yang mengancam eksistensi dan otonomi individu.
Dalam naskah tersebut HAJI HASAN MUSTAPA menegaskan bahwa justru tekanan-tekanan norma sosial (agama) tersebut secara eksistensial merupakan unsur dialektis yang menjadi potensi pendorong dan dinamisator bagi munculnya proses penyadaran eksistensi manusia.
Gelaran Sasaka di Kaislaman sebagai fase aktualisasi eksistensi manusia diawali oleh fase atau maqomat Islam hingga Kurbah. Maqomat Islam sebagai maqomat awal hingga maqomat Sahadah, digambarkan HAJI HASAN MUSTAPA sebagai maqomat yang sarat dengan sikap "menyebelah" dari individu manusia dalam memandang apa pun, baik diri maupun sesuatu di luar diri dan mulai maqomat Sidiqiah hingga Kurbah sikap-sikap menyebelah tersebut secara bertahap hilang dari cara
pandang individu manusia. HAJI HASAN MUSTAPA melihat bahwa pada gelaran inilah sikap dan cara pandang keberagamaan manusia lahir dalam pengertian yang sesungguhnya.
Naskah Martabat Tujuh-nya HAJI HASAN MUSTAPA menjelaskan fase lanjutan dari fase-fase yang dilalui dalam Gelaran Sasaka di Kaislaman. Suatu fase puncak dalam sikap dan cara pandang keagamaan yang berakhir pada maqomat Insan Kamil. Maqom yang tidak lagi melihat perbedaan dan pertentangan dalam kehidupan di dunia sebagai kenyataan hakikiah.
Perbedaan-perbedaan dan pertentangan tersebut tak lebih disebabkan oleh cara pandang manusia yang memiliki kecenderungan menyebelah dan mengutub. Cara pandang yang terlahir dari sikap yang membedakan secara radikal sifat-sifat Jamal dan Jalal Tuhan yang termanifestasi dalam keragaman alam makhluknya. Individu manusia yang telah sampai pada maqom Insan Kamil, memandang bahwa keragaman tersebut tak lebih dari manifestasi dari sifat Jamal dan Jalal Tuhan yang merupakan derivasi (tajalli) dari sifat Kamal atau Kemahasempurnaan Tuhan.
Dari kedua tulisan tersebut tampak dan dapat dimaklumi betapa pemikiran HAJI HASAN MUSTAPA dipijakkan di atas dasar-dasar teori besar, khususnya teori teosofi yang dalam dunia pesantren sekalipun dianggap sebagai teori yang tidak bisa dipelajari secara mudah.
Dengan demikian, wajarlah bila ditemukan kesulitan yang tidak kecil dalam memahami dan mendalami pemikiran dan karya besar HAJI HASAN MUSTAPA karena diperlukan sejumlah disiplin yang memadai, khususnya dalam bidang sastra Sunda, budaya, agama (khususunya tasawuf dan kalam), dan filsafat.
Tampaknya persoalan yang terjadi bukan hanya dalam mengkaji dan mendalami karya dan pemikiran HAJI HASAN MUSTAPA, tetapi juga dalam mengkaji budaya Sunda karena bila benar bahwa HAJI HASAN MUSTAPA merupakan representasi ideal budayawan dan pencetus konsep ideal manusia Sunda, maka untuk mengkaji persoalan kesundaan, persiapan dan bekal yang harus disiapkan dan dimiliki kurang lebih sama. Oleh
karena itu, keberadaan konsorsium sebagai alat dan sistem kajian untuk mengorek mutiara dari khazanah budaya Sunda yang dipendam dan terpendam menjadi prasyarat yang mutlak adanya.
****) Penulis: Ketua Jurusan Aqidah Filsafat, Dosen Teologi dan Filsafat di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.*
Posted 4 years, 11 months ago on February 27, 2006
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/166/
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/166/
Comments on this post:
Comments have now been turned off for this post
