cisaat | February 27, 2006
Isra Mikraj dan Pencerahan Spiritual Oleh: Nurul Huda AF
ISRA Mikraj merupakan salah satu peristiwa penting yang mengiringi perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam mengemban risalah kenabian. Perjalanan tersebut menjadi saksi sejarah yang monumental, spektakuler, dan tetap aktual hingga kini. Tidaklah mengherankan apabila peristiwa tersebut memperoleh perhatian tersendiri bagi kalangan umat Islam dan memperingatinya setiap tahun, yang kali ini jatuh pada hari Jumat besok.
Perjalanan Isra dimulai Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Makah) ke Masjidil Aqsha (Yerusalem), kemudian dilanjutkan dengan Mikraj yang membawanya naik ke langit menuju Sidratul Muntaha dan kembali lagi ke Makah menjelang terbitnya fajar pada malam itu juga.
Pengalaman beliau dalam menjalani Isra dan Mikraj yang begitu cepat menembus dimensi ruang dan waktu, menjadikan peristiwa tersebut sulit dijangkau oleh akal pikiran manusia. Bagaimana mungkin perjalanan yang demikian jauh ditempuh hanya dalam waktu kurang dari semalam.
Namun bagi orang yang menyandarkan dirinya dengan penuh keimanan, peristiwa tersebut adalah aktual dan nyata, sebagaimana telah diabadikan dalam Alquran: Maha Suci Allah yang membawa berjalan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Yang Kami berkati sekitarnya untuk memperlihatkan kepadanya beberapa tanda (kebesaran) Kami. Sungguh Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS 17:1).
Isra Nabi yang dimulai dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha menjadi simbol dari kesatuan risalah yang dibawa oleh para Rasul. Masjidil Haram yang di tengahnya berdiri Kakbah (Baitullah) dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail.
Sedangkan Masjidil Aqsha yang dibangun pada zaman Nabi Sulaiman menyimpan sejarah gemilang masa lalu dari generasi Bani Israil yang banyak diangkat menjadi utusan Allah.
Keterkaitan historis dari kedua tempat suci tersebut menandakan terjalinnya risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW dengan risalah para Nabi terdahulu dan sekaligus menunjukkan bahwa risalah yang disampaikan Nabi Muhammad SAW bukanlah risalah yang baru sama sekali.
Risalah yang dibawanya telah didahului oleh risalah para Rasul sebelumnya, sehingga yang disampaikan Nabi Muhammad SAW tidak lain merupakan mata rantai terakhir dari rentang panjang risalah terdahulu yang berfungsi sebagai penyempurna dalam membina kedamaian dan kesejahteraan kehidupan umat manusia.
Sedangkan Mikraj Nabi ke langit dimaksudkan untuk mendapat bimbingan spiritual langsung dari Allah. Dalam perjalanan tersebut, Nabi menerima perintah melaksanakan kewajiban salat lima waktu bagi pengikutnya dalam sehari semalam. Jika Nabi dalam menerima pesan Ilahi biasanya disampaikan melalui perantara Malaikat Jibril, maka kewajiban salat diterima langsung dari Allah.
Hal ini menandakan betapa pentingnya ibadah salat bagi umat manusia. Sebab salat mengandung dimensi batin yang mendalam yang menghubungkan aspek rohaniah manusia dengan Tuhannya.
Melalui sarana tersebut, manusia dapat menjalin komunikasi langsung dengan Tuhan dalam bentuk pengabdian, penyembahan dari hamba yang lemah tanpa perantara apa pun dan siapa pun. Sejak membaca takbiratul ihram hingga salam, orang yang melaksanakan salat langsung bermunajat kepada Allah.
Segenap puji dipanjatkan ke hadirat-Nya. Berbagai macam doa dimohonkan kepada-Nya, permohonan petunjuk jalan yang lurus, ampunan atas segala kesalahan dan dosa, rahmat dan kasih sayang, sampai keselamatan di dunia dan akhirat, semuanya dilantunkan di hadapan Zat Yang Maha Kuasa.
Seluruh aktivitas tersebut dilakukan sungguh-sungguh, khusuk, dan dihayati dengan segenap keimanan yang memupuk hati nurani manusia untuk selalu ingat kepada Tuhan-Nya dan sekaligus memiliki kekuatan jiwa dalam menangkal segala macam godaan hawa nafsu yang dapat menarik manusia untuk berbuat keburukan, menanamkan benih kebencian kepada-Nya, yang akhirnya akan menjerumuskan manusia ke jurang kenistaan.
Kesadaran Ketuhanan
Dengan demikian Isra Mikraj menjadi momentum penting yang mengarahkan otentisitas perjalanan hidup manusia. Nuansa spiritual begitu kental mengiringi perjalanannya dan menjadikannya sebagai modal bagi manusia untuk menjalin kedekatan diri dengan Tuhannya.
Sebagai wujud dari dimensi ruhaniah-spiritual, kewajiban melaksanakan salat sebagai bukti realisasi keimanan dan ketakwaan ke hadirat-Nya, guna menjadi landasan hidup agar berjalan lebih otentik.
Otentisitas hidup ini perlu ditanamkan kuat-kuat kepada Tuhan, sehingga muncul kesadaran ketuhanan (God consciousness) untuk dijadikan pijakan dalam menyongsong perjalanan hidup ini. Kesadaran ketuhanan inilah yang menjadi pancaran tauhid yang menerangi arah perjalanan hidup manusia dan sekaligus menghilangkan hasrat ketergantungan kepada unsur-unsur lain.
Untuk menjaga eksistensi spiritual diperlukan pembersihan batin manusia secara konstan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menanamkan nilai-nilai keimanan yang diperoleh melalui pengalaman spiritual. Kesadaran inilah yang membentuk karakter kesalehan spiritual dalam diri manusia.
Permasalahannya, bagaimana mempertahankan eksistensi kesalehan spiritual yang sifatnya personal-individual ke dalam ruang lingkup publik secara luas. Sudah saatnya mulai ditekankan pentingnya mengaktualisasikan kesalehan individual ke dalam bentuk kesalehan publik.
Fenomena yang berkembang selama ini orang yang secara individual dianggap saleh, ternyata dalam lingkup sosial kemasyarakatan kesalehan tersebut tidak teraktualisasikan. Hal ini terkesan ada jarak yang memisahkan antara kepentingan yang sifatnya individual dan kepentingan sosial. Padahal agama mengajarkan perlunya keseimbangan antara aspek lahiriah dan batiniah, individual dan sosial kemasyarakatan, maupun duniawi dan ukhrawi.
Sudah seharusnya kesalehan tersebut menjadi etika personal-individual yang terobjektivikasikan ke dalam dimensi publik yang membentang luas.
Manusia yang menangkap kompleksitas spirit dimensi ini, diharapkan mampu merefleksikan kesalehan spiritual yang sifatnya personal-individual ke dalam ruang lingkup kesalehan publik dan sosial. Inilah bentuk ujian yang sebenarnya dalam mengaktualisasikan dimensi kesalehan spiritual ke hadirat Tuhan. Jika kita selama ini secara individu sudah merasa saleh secara spiritual, ujian terpenting justru menerjemahkan kesalehan tersebut ke ruang publik. Jika berhasil, maka akan terwujud keharmonisan antara kehidupan manusia selaku individu maupun sebagai anggota masyarakat dan sekaligus memberi kontribusi positif dalam membentuk keharmonisan hidup bermasyarakat dan bernegara.
Dengan demikian, Isra Miraj memberi pancaran nilai-nilai ilahiyah tauhid dalam membina kesadaran iman yang diperoleh melalui pengalaman spiritual dan sekaligus mencerahkan manusia dari belenggu kekufuran dan ketergantungan kepada unsur-unsur lain yang dapat menyesatkan arah perjalanan hidup manusia.
Apabila nilai-nilai ilahiyah tersebut dioptimalkan secara luas ke dalam dimensi sosial yang dibungkus dengan bingkai rasa kepedulian, jalinan solidaritas antarsesama manusia, dan keadilan akan menumbuhkan keseimbangan antara kesalehan spiritual-individual dengan kesalehan sosial.
Inilah pengembaraan spiritual sebenarnya yang tercermin dari semangat ajaran salat dalam membentuk hamba-hamba yang bertakwa dan sekaligus berfungsi membangun transformasi hidup manusia yang berdimensi keadilan di tengah keterpurukan hidup berbangsa dan bernegara dewasa ini. Jika momentum Isra Mikraj ditangkap demikian, maka kita dapat berharap terwujudnya kehidupan masyarakat ideal sebagaimana yang dicita-citakan dalam pembangunan bangsa ini.
(18) - Nurul Huda AF MAg alumnus Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
ISRA Mikraj merupakan salah satu peristiwa penting yang mengiringi perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam mengemban risalah kenabian. Perjalanan tersebut menjadi saksi sejarah yang monumental, spektakuler, dan tetap aktual hingga kini. Tidaklah mengherankan apabila peristiwa tersebut memperoleh perhatian tersendiri bagi kalangan umat Islam dan memperingatinya setiap tahun, yang kali ini jatuh pada hari Jumat besok.
Perjalanan Isra dimulai Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Makah) ke Masjidil Aqsha (Yerusalem), kemudian dilanjutkan dengan Mikraj yang membawanya naik ke langit menuju Sidratul Muntaha dan kembali lagi ke Makah menjelang terbitnya fajar pada malam itu juga.
Pengalaman beliau dalam menjalani Isra dan Mikraj yang begitu cepat menembus dimensi ruang dan waktu, menjadikan peristiwa tersebut sulit dijangkau oleh akal pikiran manusia. Bagaimana mungkin perjalanan yang demikian jauh ditempuh hanya dalam waktu kurang dari semalam.
Namun bagi orang yang menyandarkan dirinya dengan penuh keimanan, peristiwa tersebut adalah aktual dan nyata, sebagaimana telah diabadikan dalam Alquran: Maha Suci Allah yang membawa berjalan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Yang Kami berkati sekitarnya untuk memperlihatkan kepadanya beberapa tanda (kebesaran) Kami. Sungguh Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS 17:1).
Isra Nabi yang dimulai dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsha menjadi simbol dari kesatuan risalah yang dibawa oleh para Rasul. Masjidil Haram yang di tengahnya berdiri Kakbah (Baitullah) dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail.
Sedangkan Masjidil Aqsha yang dibangun pada zaman Nabi Sulaiman menyimpan sejarah gemilang masa lalu dari generasi Bani Israil yang banyak diangkat menjadi utusan Allah.
Keterkaitan historis dari kedua tempat suci tersebut menandakan terjalinnya risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW dengan risalah para Nabi terdahulu dan sekaligus menunjukkan bahwa risalah yang disampaikan Nabi Muhammad SAW bukanlah risalah yang baru sama sekali.
Risalah yang dibawanya telah didahului oleh risalah para Rasul sebelumnya, sehingga yang disampaikan Nabi Muhammad SAW tidak lain merupakan mata rantai terakhir dari rentang panjang risalah terdahulu yang berfungsi sebagai penyempurna dalam membina kedamaian dan kesejahteraan kehidupan umat manusia.
Sedangkan Mikraj Nabi ke langit dimaksudkan untuk mendapat bimbingan spiritual langsung dari Allah. Dalam perjalanan tersebut, Nabi menerima perintah melaksanakan kewajiban salat lima waktu bagi pengikutnya dalam sehari semalam. Jika Nabi dalam menerima pesan Ilahi biasanya disampaikan melalui perantara Malaikat Jibril, maka kewajiban salat diterima langsung dari Allah.
Hal ini menandakan betapa pentingnya ibadah salat bagi umat manusia. Sebab salat mengandung dimensi batin yang mendalam yang menghubungkan aspek rohaniah manusia dengan Tuhannya.
Melalui sarana tersebut, manusia dapat menjalin komunikasi langsung dengan Tuhan dalam bentuk pengabdian, penyembahan dari hamba yang lemah tanpa perantara apa pun dan siapa pun. Sejak membaca takbiratul ihram hingga salam, orang yang melaksanakan salat langsung bermunajat kepada Allah.
Segenap puji dipanjatkan ke hadirat-Nya. Berbagai macam doa dimohonkan kepada-Nya, permohonan petunjuk jalan yang lurus, ampunan atas segala kesalahan dan dosa, rahmat dan kasih sayang, sampai keselamatan di dunia dan akhirat, semuanya dilantunkan di hadapan Zat Yang Maha Kuasa.
Seluruh aktivitas tersebut dilakukan sungguh-sungguh, khusuk, dan dihayati dengan segenap keimanan yang memupuk hati nurani manusia untuk selalu ingat kepada Tuhan-Nya dan sekaligus memiliki kekuatan jiwa dalam menangkal segala macam godaan hawa nafsu yang dapat menarik manusia untuk berbuat keburukan, menanamkan benih kebencian kepada-Nya, yang akhirnya akan menjerumuskan manusia ke jurang kenistaan.
Kesadaran Ketuhanan
Dengan demikian Isra Mikraj menjadi momentum penting yang mengarahkan otentisitas perjalanan hidup manusia. Nuansa spiritual begitu kental mengiringi perjalanannya dan menjadikannya sebagai modal bagi manusia untuk menjalin kedekatan diri dengan Tuhannya.
Sebagai wujud dari dimensi ruhaniah-spiritual, kewajiban melaksanakan salat sebagai bukti realisasi keimanan dan ketakwaan ke hadirat-Nya, guna menjadi landasan hidup agar berjalan lebih otentik.
Otentisitas hidup ini perlu ditanamkan kuat-kuat kepada Tuhan, sehingga muncul kesadaran ketuhanan (God consciousness) untuk dijadikan pijakan dalam menyongsong perjalanan hidup ini. Kesadaran ketuhanan inilah yang menjadi pancaran tauhid yang menerangi arah perjalanan hidup manusia dan sekaligus menghilangkan hasrat ketergantungan kepada unsur-unsur lain.
Untuk menjaga eksistensi spiritual diperlukan pembersihan batin manusia secara konstan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menanamkan nilai-nilai keimanan yang diperoleh melalui pengalaman spiritual. Kesadaran inilah yang membentuk karakter kesalehan spiritual dalam diri manusia.
Permasalahannya, bagaimana mempertahankan eksistensi kesalehan spiritual yang sifatnya personal-individual ke dalam ruang lingkup publik secara luas. Sudah saatnya mulai ditekankan pentingnya mengaktualisasikan kesalehan individual ke dalam bentuk kesalehan publik.
Fenomena yang berkembang selama ini orang yang secara individual dianggap saleh, ternyata dalam lingkup sosial kemasyarakatan kesalehan tersebut tidak teraktualisasikan. Hal ini terkesan ada jarak yang memisahkan antara kepentingan yang sifatnya individual dan kepentingan sosial. Padahal agama mengajarkan perlunya keseimbangan antara aspek lahiriah dan batiniah, individual dan sosial kemasyarakatan, maupun duniawi dan ukhrawi.
Sudah seharusnya kesalehan tersebut menjadi etika personal-individual yang terobjektivikasikan ke dalam dimensi publik yang membentang luas.
Manusia yang menangkap kompleksitas spirit dimensi ini, diharapkan mampu merefleksikan kesalehan spiritual yang sifatnya personal-individual ke dalam ruang lingkup kesalehan publik dan sosial. Inilah bentuk ujian yang sebenarnya dalam mengaktualisasikan dimensi kesalehan spiritual ke hadirat Tuhan. Jika kita selama ini secara individu sudah merasa saleh secara spiritual, ujian terpenting justru menerjemahkan kesalehan tersebut ke ruang publik. Jika berhasil, maka akan terwujud keharmonisan antara kehidupan manusia selaku individu maupun sebagai anggota masyarakat dan sekaligus memberi kontribusi positif dalam membentuk keharmonisan hidup bermasyarakat dan bernegara.
Dengan demikian, Isra Miraj memberi pancaran nilai-nilai ilahiyah tauhid dalam membina kesadaran iman yang diperoleh melalui pengalaman spiritual dan sekaligus mencerahkan manusia dari belenggu kekufuran dan ketergantungan kepada unsur-unsur lain yang dapat menyesatkan arah perjalanan hidup manusia.
Apabila nilai-nilai ilahiyah tersebut dioptimalkan secara luas ke dalam dimensi sosial yang dibungkus dengan bingkai rasa kepedulian, jalinan solidaritas antarsesama manusia, dan keadilan akan menumbuhkan keseimbangan antara kesalehan spiritual-individual dengan kesalehan sosial.
Inilah pengembaraan spiritual sebenarnya yang tercermin dari semangat ajaran salat dalam membentuk hamba-hamba yang bertakwa dan sekaligus berfungsi membangun transformasi hidup manusia yang berdimensi keadilan di tengah keterpurukan hidup berbangsa dan bernegara dewasa ini. Jika momentum Isra Mikraj ditangkap demikian, maka kita dapat berharap terwujudnya kehidupan masyarakat ideal sebagaimana yang dicita-citakan dalam pembangunan bangsa ini.
(18) - Nurul Huda AF MAg alumnus Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Posted 4 years, 11 months ago on February 27, 2006
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/165/
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/165/
Comments on this post:
Comments have now been turned off for this post
