cisaat | December 19, 2005
Kesadaran burung adalah kesadaran yang diperoleh seorang penempuh jalan salik, selama tahap-tahap perjalanan ruhani melampaui kedudukan maqamat menuju kesatuan (tauhid). Bagaikan seekor burung , seorang salik yang sudah mencapai tahap ini akan menyaksikan dunia sebagai tempat hinggap sementara dan segera dapat ditinggalkan kapanpun dikehendaki. Segala sesuatu yang terkait dengan kecintaan terhadap dunia (hubb ad-dunya) sudah menyingsing bagaikan matahari yang menyeruak ditengah gumpalan awan hitam. Dunia telah menjadi sesuatu yang rendah dibawahnya.
Pada tahap ini sang salik akan merasakan getar-getar cinta ( hubb ) seorang pecinta ( muhibb) untuk mengarahkan pandangannya kepada sang Kekasih ( Mahbub ) sehingga yang lain ( ghair ) akan terabaikan.
Kesadaran burung adalah kesadaran sang salik ketika melihat dunia, sebagai hanya sekedar tempat berpijak untuk hinggap , makan, tidur, bermadu kasih, dan bersarang. Kesadaran mahkluk berkedudukan tinggi yang selalu mengarahkan pandangan kehamparan kehidupan dibawahnya, atau kesadaran untuk selalu melimpahkan segala sesuatu dari atas atau tanpa pernah menengadah
dari bawah, atau KESADARAN UNTUK SELALU MEMBERI TANPA PERNAH MEMINTA. Atau kesadaran seorang salik pada ambang batas antara alam tidak kasat mata dan alam kasat mata, wujud ke nirwujud, atau kesadaran memaknai angkasa kosong sebagai tujuan akhir dari kebebasan yang didambakannya. Meskipun jalan salik harus dia tempuh dengan mengorbankan sayap-sayapnya dan tubuhnya hancur lebur diterpa keganasan dan kedahsyatan alam semesta.
Kesadaran burung adalah cermin dari jiwa merdeka, yang tidak sudi bertekuk lutut kepada sesama, menuhankan sesama, meskipun dari padanya disediakan sangkar emas dan limpahan makanan.
Meski kesadaran burung nilainya lebih tinggi dari kesadaran binatang melata dalam rentang perjalanan ruhani seorang salik, namun kesadaran burung masih berjenjang berdasarkan tingkat kedudukan ( maqamat ) yang mencitrai makna keburungannya.
Ada kesadaran burung gagak , yang tidak mampu terbang tinggi dan jauh, itulah kesadaran yang masih terkungkung lingkaran angan-angan, yang memunguti serpihan-serpihan bangkai kemalasan dan cepat lupa diri jika dipuji-puji.
Ada kesadaran burung merak , yang tidak mampu terbang tinggi dan jauh, itulah kesadaran yang cenderung membusungkan dada dan membentangkan bulu-bulu indah ekornya, untuk memamerkan keindahan citra dirinya sebagai yang terbaik dan terindah diantara segala burung.
Ada pula kesadaran burung bangau, yang pintar bertutur kata namun cenderung memuji diri dan selalu memanfaatkan " udang-udang " yang percaya pada ucapannya.
Pada tingkat selanjutnya ada kesadaran burung beo,yang cenderung bangga dan berpuas diri bisa berkata-kata menirukan kata-kata orang bijak tanpa tahu maknanya.
Ada kesadaran burung pipit, yang cenderung berbangga diri hidup dalam kawan-kawanan dan kemudian membanggakan kawanannya sebagai yang paling baik dan benar.
Ada kesadaran burung merpati, yang meskipun mampu terbang tinggi dan jauh, namun cenderung gampang terbujuk oleh kemapanan sehingga menjadi hewan peliharaan yang jinak.
Yang tergagah dan perkasa adalah kesadaran burung rajawali, sebuah kesadaran terbang tinggi dan jauh ditengah kesenyapan angkasa , berkawan kesunyian dan keheningan, bersarang tinggi dipuncak tebing karang, tidak makan jika tidak lapar, tidak minum jika tidak haus, dan selalu bertasbih memuji Sang Penciptanya, dengan getar suara garang bermakna rahasia.haqq.haqq.haqq...haqq.
>>>>Dicopy dari Milis Sirnagalih
( Suluk Malang Sungsang- Syaikh Siti Jenar : Agus Sunyoto )
Pada tahap ini sang salik akan merasakan getar-getar cinta ( hubb ) seorang pecinta ( muhibb) untuk mengarahkan pandangannya kepada sang Kekasih ( Mahbub ) sehingga yang lain ( ghair ) akan terabaikan.
Kesadaran burung adalah kesadaran sang salik ketika melihat dunia, sebagai hanya sekedar tempat berpijak untuk hinggap , makan, tidur, bermadu kasih, dan bersarang. Kesadaran mahkluk berkedudukan tinggi yang selalu mengarahkan pandangan kehamparan kehidupan dibawahnya, atau kesadaran untuk selalu melimpahkan segala sesuatu dari atas atau tanpa pernah menengadah
dari bawah, atau KESADARAN UNTUK SELALU MEMBERI TANPA PERNAH MEMINTA. Atau kesadaran seorang salik pada ambang batas antara alam tidak kasat mata dan alam kasat mata, wujud ke nirwujud, atau kesadaran memaknai angkasa kosong sebagai tujuan akhir dari kebebasan yang didambakannya. Meskipun jalan salik harus dia tempuh dengan mengorbankan sayap-sayapnya dan tubuhnya hancur lebur diterpa keganasan dan kedahsyatan alam semesta.
Kesadaran burung adalah cermin dari jiwa merdeka, yang tidak sudi bertekuk lutut kepada sesama, menuhankan sesama, meskipun dari padanya disediakan sangkar emas dan limpahan makanan.
Meski kesadaran burung nilainya lebih tinggi dari kesadaran binatang melata dalam rentang perjalanan ruhani seorang salik, namun kesadaran burung masih berjenjang berdasarkan tingkat kedudukan ( maqamat ) yang mencitrai makna keburungannya.
Ada kesadaran burung gagak , yang tidak mampu terbang tinggi dan jauh, itulah kesadaran yang masih terkungkung lingkaran angan-angan, yang memunguti serpihan-serpihan bangkai kemalasan dan cepat lupa diri jika dipuji-puji.
Ada kesadaran burung merak , yang tidak mampu terbang tinggi dan jauh, itulah kesadaran yang cenderung membusungkan dada dan membentangkan bulu-bulu indah ekornya, untuk memamerkan keindahan citra dirinya sebagai yang terbaik dan terindah diantara segala burung.
Ada pula kesadaran burung bangau, yang pintar bertutur kata namun cenderung memuji diri dan selalu memanfaatkan " udang-udang " yang percaya pada ucapannya.
Pada tingkat selanjutnya ada kesadaran burung beo,yang cenderung bangga dan berpuas diri bisa berkata-kata menirukan kata-kata orang bijak tanpa tahu maknanya.
Ada kesadaran burung pipit, yang cenderung berbangga diri hidup dalam kawan-kawanan dan kemudian membanggakan kawanannya sebagai yang paling baik dan benar.
Ada kesadaran burung merpati, yang meskipun mampu terbang tinggi dan jauh, namun cenderung gampang terbujuk oleh kemapanan sehingga menjadi hewan peliharaan yang jinak.
Yang tergagah dan perkasa adalah kesadaran burung rajawali, sebuah kesadaran terbang tinggi dan jauh ditengah kesenyapan angkasa , berkawan kesunyian dan keheningan, bersarang tinggi dipuncak tebing karang, tidak makan jika tidak lapar, tidak minum jika tidak haus, dan selalu bertasbih memuji Sang Penciptanya, dengan getar suara garang bermakna rahasia.haqq.haqq.haqq...haqq.
>>>>Dicopy dari Milis Sirnagalih
( Suluk Malang Sungsang- Syaikh Siti Jenar : Agus Sunyoto )
Posted 5 years, 1 month ago on December 19, 2005
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/147/
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/147/
Comments on this post:
Comments have now been turned off for this post
