cisaat | September 21, 2005

Hadis Nabi Muhammad SAW itu bermakna sangat dalam. Kita tak bisa mengaku beriman sementara membiarkan diri kita kotor. Bersih yang dimaksud dalam hadis di atas adalah bersih diri secara lahir dan batin.

Tak mungkin Nabi Muhammad SAW menyuruh kita membersihkan aspek lahir atau fisik saja sementara membiarkan batin kita kotor dan berpenyakit. Kita tak bisa tampil bersih tapi memelihara dendam dalam hati. Apa yang ada dalam hati terlihat secara lahir.

Umat Islam harus bersih dalam segala kesempatan. Tak ada yang mau mendekat pada orang yang kotor dan bau. Karena itu, di hadapan manusia, berlomba-lomba orang memperbaiki penampilan. Mereka memilih pakaian yang baik dan bersih plus sedikit menyemprotkan parfum agar harum.

Bila dalam bergaul sesama manusia, kita rela merogoh kocek demi penampilan, mengapa kita juga tak berlomba untuk tampil bersih dan rapi di depan Allah Yang Maha Indah. Bukankah alur hidup kita tak lain kecuali menuju Dia.

Shalat adalah mi'raj kita kepada Al Haq. Shalat adalah saat kita menghadapkan wajah dalam dimensi fisik dan ruhani kepada sang pencipta. Dia maha bersih. Dia maha mulia. Untuk menuju yang maha suci, kita juga harus suci. Sebagaimana air bersih tak bisa bercampur dengan air kotor.

Kita tak bisa mencapai tujuan yang tinggi dan mulia dengan diri yang kotor. Itu sebabnya untuk shalat, kita perlu memeriksakan apakah pakaian kita sudah bersih. Apakah diri kita sudah suci.

Kita hanya bisa menghadap yang maha suci dengan tubuh dan pakaian yang bersih dari najis dan kotoran. Kita juga menghadap-Nya dengan diri yang suci dan bersih dari penyakit hati. Sedikit saja kotoran dalam diri kita, tak akan kita bisa mencapai-Nya. Telah gagal perjalanan kita.

Sering dalam shalat, kita terbayang benda yang hilang, pekerjaan yang terlalaikan, atau pikiran yang melayang entah ke mana. Itu terjadi karena kita lupa menyucian diri sebelum shalat. Ada noda yang membuat hubungan kita dengan Dia, terbatasi. Kita perlu bersuci untuk menjebol sekat itu.

Menurut ulama penyucian diri mempunyai empat peringkat. Yang pertama adalah suci dari hadas lahir. Tingkat kedua adalah suci dari tindakan kriminal dan dosa. Tingkat berikutnya adalah suci dari hati dan akhlak yang tercela, dan puncaknya adalah suci dari segala sesuatu selain Allah. Yang terakhir adalah capaian para ahli makrifat.

Keberhasilan pada tingkat pertama menentukan tingkat selanjutnya. Kita tak bisa mencapai tingkat yang lebih tinggi bila mengabaikan tingkat yang di bawahnya. Anggapan bahwa melalaikan aspek lahir dengan niatan meperoleh kesucian batin adalah salah. Sebagaimana orang yang jarang shalat tapi mengaku mencapai tingkat makrifat.

Ada juga yang berpendapat penyucian itu tiga macam saja yakni basyariah, akhlak dan zat. Pada tahap pertama, kita harus membersihkan diri dari perbuatan kotor. Caranya adalah dengan memperbanyak amalan sunnah dan meperbaiki niat dalam hati. Sesungguhnya Allah menurunkan manusia dalam keadaan putih bersih. Tubuh dan jiwa manusia menjadi kotor setelah ia turun ke dunia karena mereka tak bisa berpegang pada tali-Nya.

Kotoran dalam hati adalah sumber dari seluruh kotoran. Kotoran hati itu muncul dari keterikatan manusia kepada dunia. Bahkan bekas kecintaan kepada diri sendiri dan dunia ada dalam hati sedikit saja sudah bisa menghambat erjalanan para pesuluk menuju-Nya. Karena ada kotoran, karakter kita menjadi buruk. Selama karakter masih buruk, perilaku kita tak akan berubah jadi baik.

Keluar dari maqam peyucian basyariah, seseorang akan keluar dari rumah yang gelap menuju cahaya. Mereka tak bisa melihat kecuali kebenaran. Melintasi tahap itu, manusia menapakkan kaki kepada tahap kedua. Karena telah bisa melihat kebenaran, manusia berhias dengan akhlak utama dan perilaku mulia. Ia bukan saja meninggalkan perbuatan dosa tapi menjauhi segala yang sia-sia.

Setelah itu ia mulai menyucikan hatinya dari segala sesuatu selain Allah. Kemudian tak ada lagi tabir yang menghalanginya. Pada tahap ini kita boleh berujar, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku adalah untuk Allah. Tak ada lagi selain Dia. Itulah mengapa aku menjadi Muslim.

Ikrar seperti itu telah kita lakukan setiap kita shalat. Lima kali dalam sehari bahkan lebih. Tapi entah mengapa kita masih juga mampu menyingkap tabir-Nya. Tak ada lain kecuali kita menghadap Dia sang pencipta dengan tubuh kotor. Oleh sebab itu mari bersuci agar kita bisa mencintai-Nya, mencintai mahluk-Nya dan menggapai cinta-Nnya.
Posted 5 years, 4 months ago on September 21, 2005
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/135/

Comments on this post:

Comments have now been turned off for this post