cisaat | September 14, 2005

Dengan nama Allah yang Maha pengasih dan Maha penyayang

Ya Allah, jadikanlah pada hatiku cahaya dan pada pendengaranku cahaya Dan pada penglihatanku cahaya Dan di sebelah kananku cahaya, di sebelah kiriku cahaya Di hadapanku cahaya dan di belakangku cahaya Di atasku cahaya dan di bawahku cahaya Dan jadikanlah aku cahaya

Ya Allah, berikanlah pada hatiku cahaya dan ngatanku "tiada Tuhan melainkan Allah" Dan bukakanlah rahasia-rahasiaku dengan ingatan "Allah, Allah" Dan luaskanlah ruhku dengan ingatan Dia, Dialah Allah

Ya Allah, berikanlah cahaya pada hatiku dengan cahaya petunjukMu Sebagaimana Engkau menerangi bumi dengan cahaya matahariMu selama-lamanya

Dengan rahmatMu, wahai Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Ya Allah, bersihkanlah hatiku daripada syirik, kekafiran dan kemunafikan Dan kebahagiaan dari Allah atas junjungan kami Muhammad dan atas keluarganya dan sahabat-sahabatnya

Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam


Siapakah mukmin yang tak tersentuh hatinya pada pinta di atas? Adakah pinta di atas sekadar untaian (kalimat) keindahan?

Betul, pinta agar dikelilingi cahaya -- bahkan ''dan jadikanlah aku cahaya'' -- sungguh menggetarkan dawai keindahan di bilik hati. Namun, bukan sekadar keindahan yang menyentuh sanubari. Hasrat untuk mendapatkan kemuliaan-Nya, justru menjadi kemuliaan itu sendiri.

Kenapa? Seperti diriwayatkan, mula proses penciptaan manusia (Adam), berasal dari tanah. Allah pun meniupkan ruh, maka, jadilah Adam. Berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain -- seperti syetan dari api dan malaikat dari cahaya -- manusia mendapatkan kelebihan nafsu: an-nafs al-ammarah yang menggoda manusia kepada kemaksiatan dan
an-nafs al-muthma'innah yang merupakan ruh ilahiyah dan mengajak pada kebajikan.

Secara kodrati, manusia senantiasa disetir kedua nafsu, senantiasa dipengaruhi kekontrasan keduanya. Hidup menjadi pertempuran kedua nafsu yang terus menerus berkecamuk di dada seorang keturunan Adam. Tak jarang, nafsu kemaksiatan yang didukung bala pasukan syaitan, menang. Tapi, hai keturunan Adam, bukankah engkau saat hendak dilahirkan telah bersumpah menjadi khalifah kebajikan di muka bumi?

Demi sumpah pada-Nya, kita mesti senantiasa memohon kekuatan-Nya. Tapi, apa arti kekuatanmu hai keturunan Adam, ketika menyadari sesungguhnya hakikat eksistensimu sekadar lempung? Tanah hakikatnya di bawah, terinjak di kaki (betapa kita seringkali alpa pada hakikat penciptaan manusia ketika berada di puncak kekuasaan). Betapa hina
sesungguhnya manusia terutama jika lalai pada hakikat eksistensi dirinya.

Permohonan ''dan jadikanlah aku cahaya'' sesungguhnya kesadaran pada kehinaan eksistensi diri. Kesadaran itu memicu pinta untuk menjadi mulia. Cahaya, sejatinya, merupakan suluh yang menerangi. Dapatkah Anda membayangkan hidup macam apa bila tak mendapatkan cahaya? Tanpa
cahaya adalah jahiliyah. Manusia tanpa cahaya tak ubahnya babi yang menyeruduk menuruti naluri hewani.

Cahaya, seperti yang diriwayatkan, menjadi hakikat eksistensi alam malaikat. Berbeda dengan manusia, eksistensi cahaya dapat menembus ruang dan waktu. Kecepatan cahaya, menjadi idiom pada sains, untuk melukiskan betapa luar biasa kecepatan tersebut. Tak sekadar pada sains, cahaya menjadi sesuatu yang sangat penting, di bidang spritual.

Bahkan, mengutip satu riwayat seperti yang ditulis Sayid Muhammad Mahdi Thabathaba'I Bahrul Ulum di bukunya As-Sair Wa As-Suluk, Nabi SAW bertanya pada Jibril, apakah malaikat pembawa wahyu itu pernah melihat Allah. ''Antara aku dan Dia terdapat 40 hijab cahaya, dan seandainya aku mendekat seujung jari saja, niscaya tubuhku terbakar.''

Cahaya, bagi pejalan ruhani yang mencelupkan diri pada suluk, merupakan rahasia antara dirinya dengan Sang Pencipta. Di puncak zikir, setelah melakukan perjalanan melangit, setelah jiwa manusia memasuki alam kudus -- dan dibukakan hijab -- yang berhubungan dengan cahaya-cahaya al-Haq, menemukan kemilau cahaya-Nya meski masih berjarak nun. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki... (QS 24:35).

Ya Allah, jadikanlah aku cahaya. Sebuah pinta yang terus diwiridkan, dengan janji-Nya akan mengabulkan setiap permintaan hamba yang dikasihi-Nya, seseorang menuju derajat kemuliaan.
Posted 5 years, 4 months ago on September 14, 2005
The trackback url for this post is http://www.gagakmas.org/qolbu/bblog/trackback.php/133/

Comments on this post:

Comments have now been turned off for this post